Berita Terbaru Seputar BBPMSOH


 

Pada tanggal 9 Desember 2010 dilaksanakan seminar internal mengenai hasil pertemuan teknis kompetensi laboratorium virologi di Bukittinggi pada tanggal 23 - 27 November 2010 yang dihadiri oleh Dr. drh. Ketut Karuni N. Natih, M.Si selaku penguji unit uji virologi di BBPMSOH. Pertemuan virologi merupakan pertemuan tahunan yang rutin diadakan yang dihadiri instansi dari Balai Besar Veteriner, BPPV, BBPMSOH, Balitvet, Pusvetma, dan Fakultas Kedokteran Hewan.

 

Pertemuan kali ini membahas masalah perkembangan Rabies dan diagnosa, dimana sekarang ini kasus Rabies banyak ditemukan di Indonesia. Dan menjadi permasalahan utama di beberapa provinsi yang dulunya daerah bebas Rabies seperti Bali. Di dalam pertemuan ini disebutkan bahwa selain dari gejala klinis, diagnosa Rabies dapat diperkuat dengan berbagai metode pengujian seperti pengecatan Haematoksilin Eosin, Pengecatan Seller's, Fluorescent Antibody Tes (FAT), Elisa, Uji biologis seperi mice Intracerebral test ataupun tissue culture, dan PCR.

 

Rumusan yang dihasilkan dari Pertemuan Teknis dan Kompetensi Laboratorium Virologi adalah sebagai berikut:

  • 1. Dalam pengembangan diagnosa penyakit viral pada masa yang akan datang penggunaan Tissue Culture di seluruh Balai Besar Veteriner, BPPV, BBPMSOH, Balitvet, Pusvetma, dan Fakultas Kedokteran Hewan seluruh Indonesia di harapkan dapat ditingkatkan dengan saling kerjasama dan tukar informasi.
  • 2. Penggunaan metode Imunosito Kimia perlu dikembangkan untuk mendiagnosa penyakit viral selain rabies
  • 3. Kit Elisa antibody Rabies produksi PUSVETMA diharapkan dapat menggunakan antigen Glykoprotein sebagai bahan coating dan mikroplate strip
  • 4. Dalam pertemuan ini disepakati pembentukan Assosiasi Virologi Veteriner Indonesia
  • 5. Pertemuan virologi 2011 direncanakan diadakan di Balai Besar Wates yang membahas standarisasi pengujian Laboratorium Virologi, termasuk uji Banding dan Uji Kompetensi

 

Pada tanggal 4 Nopember 2010 telah dilaksanakan seminar internal tentang hasil pelatihan Pemeliharaan dan  Penggunaan Hewan Laboratorium yang dilaksanakan di Pusat Studi Satwa Primata - IPB Bogor pada 27-30 September yang dihadiri oleh drh. Basuki Rahkmat S. selaku koordinator Unit Hewan Percobaan di BBPMSOH. Seminar internal ini merupakan kegiatan regular yang dilakukan di BBPMSOH guna meningkatkan pengetahuan dan terjadi saling tukar informasi antara personal di BBPMSOH.

 

Pelatihan ini sangat penting guna meningkatkan kemampuan terutama mengenai hewan percobaan mengingat BBPMSOH memiliki berbagai fasilitas hewan percobaan seperti ayam SPF, breeding hewan kecil seperti tikus dan mencit serta adanya fasilitas hewan percobaan ikan yang sangat penting dalam menjamin pelaksaaan pengujian berbagai obat hewan.

 

Pada kesempatan kali ini, drh. Basuki menjelaskan masalah kesejahteraan hewan laboratorium menurut UU No. 18 Tahun 2009 Bab VI bagian kedua pasal 66, kualitas hewan laboratorium, komisi etik hewan laboratorium, pengenalan Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Laboratorium Indonesia (ADHPHLI) serta alat-alat penanganan dan handling hewan laboratorium.

 

Demi tercapainya kesejahteraan hewan, maka kriteria hewan coba selayaknya dilakukan 3R yaitu Replacement yaitu suatu usaha meminimalkan penggunaan hewan coba yang dapat diganti dengan media lain seperti media kultur atau sejenisnya maupun dengan metode statistik, Reduction yaitu usaha meminimalkan jumlah atau pengurangan pemakaian hewan coba, dan  refinement  yaitu perlakuan yang pantas terhadap semua organisme agar bebas dari 5R yaitu rasa lapar dan haus (hunger & thirst), rasa sakit (discomfort pain), rasa takut dan tekanan (injury fear & distress), rasa bebas untuk mengekspresikan/menunjukkan perilaku alamiahnya (to express natural behavior) serta pengkayaan lingkungan). Hal ini sebagai wujud kemanusiawian terhadap hak-hak hidup hewan coba sebagai makhuk hidup di masa-masa penempatan, pengandangan, perawatan dan perlakuan. Hal-hal tersebut diatas telah dilakukan di BBPMSOH dengan adanya penggunaan sel sebagai pengganti hewan percobaan pada beberapa pengujian vaksin, dan juga pemeliharaan yang baik agar syarat 5R dapat terpenuhi,

 

Kualitas hewan laboratorium juga perlu diperhatikan. Hewan laboratorium sebelum digunakan sebagai hewan uji harus dikarantina beberapa hari terlebih dahulu untuk menghindari stress pergantian lingkungan di tempat uji melalui program monitoring kesehatan antara lain pemeriksaan harian dan program Quality Assurance. Kegiatan ini dilakukan baik dalam kandang perbibitan dan kandang uji Program Quality Assurance yang dilakukan yaitu monitoring secara mikrobiologi, pengujian sentinel serta manajemen pemeliharaan.

 

Dalam acara pelatihan tersebut juga diperkenalkan ADHPHLI yang anggotanya merupakan pengguna hewan laboratorium seperti dokter hewan, peneliti, penguji, analis, paramedik dan petugas pemelihara hewan. Selain itu juga dapat dibentuk komisi etik hewan laboratorium pada tiap-tiap institusi yang beranggotakan orang-orang yang berkecimpung dalam masalah hewan laboratorium.

 

Demi terjaminnya kesejahteraan hewan (animal welfare), diperlukan adanya perbaikan sarana pemeliharaan dan pengujian, monitoring kesehatan hewan yang melibatkan beberapa pihak dan pembentukan komisi etik hewan laboratorium di masing-masing institusi.